Selasa, 31 Mei 2011

Jenis tanaman dan gerakan menanam

Sempadan sungai sering disebut juga disebut bantaran sungai. Namun sebenarnya ada sedikit perbedaan, karena bantaran sungai adalah daerah pinggiran sungai yang tergenang air pada saat banjir atau dikenal dengan bantaran banjir. Sedangkan sempadan sungai adalah daerah bantaran banjir ditambah lebar longsoran tebing sungai (sliding) yang mungkin terjadi, lebar bantaran ekologis dan lebar bantaran keamanan yang diperlukan, terkait dengan letak sungai (missal untuk areal pemukiman dan non-pemukiman) (Maryono, 2003).

Sempadan sungai, terutama di bantaran banjir merupakan daerah ekologi sekaligus hidrologis sungai yang sangat penting. Sempadan sungai tidak dapat dipisahkan dengan badan sungainya, karena merupakan kesatuan ekologis dan hidrologis dalam ekosistem sungai.

Gambar 1. Tipe umum penampang sungai dan penentu lebar daerah sempadan sungai.






Secara ekologis sempadan sungai merupakan “habitat ekosistem sungai berkembang”. Komponen vegetasi secara alami akan mendapatkan hara dari sedimentasi, selanjutnya vegetasi tersebut berfungsi sebagai pemasok untrisi untuk komponen fauna sungai dan sebaliknya. Dari proses tersebut terjalin suatu hubungan yang saling terkait atau mutualisme.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 102 jenis tumbuhan dan 3 jenis bambu yang ditaman di bantaran dan sempadan DAS Ciliwung dan Cisadane (pratiwi, 2000). Kategorisasi jenis tumbuhan yang ditanam termasuk penghasil buah, pelindung/tanaman hias, dan penghasil kayu.

Beberapa jenis pohon alami dan budidaya yang sangat berpotensi sebagai penahan erosi yang umum di jumpai di pinggiran sungai yaitu:
















Keberadaan komponen vegetasi harus terus dipertahankan keberadaannya, seperti jenis-jenis pohon diatas yang saat ini sudah mulai berkurang jumlahnya di alam akibat degradasi lingkungan oleh maraknya pembangunan yang tidak ramah lingkungan serta kesadaran manusia untuk mau menjaga dan melestarikan Sungai. Bagaimanapun sungai berikut bantaran dan sempadannya memiliki peran yang sangat penting dalam ekosistem DAS (Daerah Aliran Sungai).

Untuk itu kegiatan penanaman pohon atau reboisasi harus terus dilakukan baik secara individu maupun kelompok secara massif, agar ketersedian pohon tidak hilang. Karena bisa dibayangkan jika pepohonan di pinggir sungai tidak ada, maka bencana tidak akan terelakan lagi.

Kegiatan menanam untuk membantu memperbaiki kondisi ekosistem harus terus di galakan sehigga tercipta keseimbang alam untuk keberlanjutan hidup di masa mendatang. Dalam kontek ini, Iwan Fals sebagai maestro sudah menulis syair lagu dengan judul “Taman Siram Tanam”, berikut liriknya:

Tanam Siram Tanam
Iwan Fals

Tanam tanam tanam kita menanam
Tanam pohon kehidupan
Kita tanam masa depan

Tanam tanam tanam kita menanam
Jangan lupa disiram
Yang sudah kita tanam

Siram siram siram yo kita siram
Apa yang kita tanam
Ya mesti kita siram

Tanam tanam pohon kehidupan
Siram siram sirami dengan sayang
Tanam tanam tanam masa depan
Benalu benalu kita bersihkan

Biarkan anak cucu kita belajar dibawah pohon
Biarkan anak cucu kita menghirup udara segar
Biarkan mereka tumbuh bersama hijaunya daun
Jangan biarkan mereka mati dimakan hama kehidupan

Tanam tanam tanam ... siram
Tanam tanam tanam ... oi
Tanam tanam tanam ... siram
Tanam tanam tanam

Sabtu, 28 Mei 2011

Pulang Mulung Bibit Beringin & Nyamplung KPC, Kami Memancing di Cisadane.


pada tanggal 28/05/2011 hari sabtu pagi kebetulan saya dan kawanku Asun (Sudirman Asun) Jakarta Glue seperti biasa kawan ini mengginap di Mbogor, demi menggikuti program mingguan orang-orang gila yang perduli terhadap sungai Tjiliwoeng, Mulung bibit semai beringin dan nyamplung. kegiatan ini dipusatkan di sekitar Sekret Pencinta Alam Lawalata Kampus IPB darmaga. Semai/bibit yang kami kumpulkan nantinya akan kami tanam di Bantaran Tjiliwoeng. Kebetulan memang pada kesempatan mulung bibit kali ini di pimpin langsung oleh komandan KPC, Mas oiq (hapsoro) Setelah Beliau Lama menggemban tugas kantornya Ke kalteng, Maklum orang sibuk begitu kiranya orang kita menyebutnya.
di kesempatan mulung bibit kali ini yang di pimpin langsung sang kumendan alhamdulillah orang sukarelawan agak banyakan yang ikutan, mulai dari anak-anak, balita, ibu-ibu, bapak-bapak, sampai kakek-kakek pun ada. jumlah orang yang ikutan mulung bibit kali ini 2 balita. 1 anak-anak,1 ibu-ibu,5 bapak-bapak, 1 kakek-kakek dan satu lagi pejantan om asun, maklum saja walau di sekitar hiruk pikuk yang ada di kalangan kampus, hilir mudiknya mahasiswa dan mahasiswi tak membuat kecut nyali kami, karna kegiatan yang kami (KPC) lakukan hanya keikhlas semata, Tampa ada rasa malu sedikitpun di hati kami. Biar orang lain menyebut kami orang gila sekalipun kami ikhlas, toh gak gila beneran. kadang kami (KPC) di sebut orang-orang gila yang kerjaannya hanya jadi setan sampah/setan spanduk, "Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak" yang sedikit melakukan sesuatu, tapi kami yakin hal Kecil yang kami lakukan nantinya akan berguna bagi orang banyak. setelah menjadi julukan setan diatas kami sekarang punya sebutan lagi, setan semai/bibit nyamplung dan beringin, dasar setan yaaa..... Kerjaannya jadi penggangu Warga Bantaran (DAS), supaya jadi lebih perduli terhadap Tjiliwoeng.
Setelah selesai Kegiatan mulung semai/bibit KPC Saya (Hari Kikuk) dan om Asun memutuskan ngimana kalau selepas kegiatan ini kita mancing, di dekat rumah Mas yoyon (Markus Ratryono) Anggota KPC yang tinggal di dekat sungai Cisadane. Ideku di Amini oleh om asun boleh juga tuh, setelah habis mulung bibit kita terlebih dahulu menyempatkan makan siang di kantin dalam Kampus IPB, setelah makan siang kami pun meluncur ke Cisadane. Dalam perjalan kami berdua sesekali ngobrolin sungai Cisadane ini seperti apa? wah katanya di sungai Cisadane buanyak ikannya om tapikan.... Kita masih asing dengan sungai ini, walaupun Cisadane terkenal akan sejarahnya. Pada massa lampau Cisadane adalah sungai yang dijadikan alat tranportasi jalur sungai oleh Raja-Raja terdahulu. Sampai sekarang sungai ini memiliki nilai sejarah yang cukut erat, akan sejarah Raja-Raja yang pernah ada di Jawa Barat, hingga saat ini petilasan Raja yang pernah melewati Cisadane ini ada di daerah Ciapea, dengan adanya Situs tapak kaki seorang Raja terkenal era kerajaan taruma negara yang berasal dari kutai. Sri Purawarman adalah raja yang pernah singgah dan mendirikan Istananya di Jawa Barat. Kerajaan ini adalah kerajaan Hindu-Budha tertua keduan setelah Majapahit di Indonesia.
Tak terasa obrolan kami berdua akhirnya menghantarkan kami ke tempat tujuan, setelah sampai ke tempat yang kami tuju, kami saling sapa dengan mas Yoyon yang telah dahulu sampai.
hai mas Spot mancing yang bagus di Cisadane dimana mas? Oh....; kalau itu mah, ada di belakang rumahku kearah rimbunan bambu jawabnya.
Wah kalau kalian Mancing sekarang kebetulan sekali itu pas waktunya, karna apa kemaren malam Cisadane Banjir airnya hampir mencapai batas tebing di sebelah rumahaku. Alhamdulillah Rumah kawanku tidak kebanjiran alias airnya ngak sempat naik melebihi batas tebingan Cisadane.
Ya.....; Sudah sambil ngobrol ayo aku antarkan ke Spot yang kalian ingginkan semoga kalian beruntung mendapatkan ikan, sesampainya di Spot yang kami tuju ternyata benar kata mas Yoyon Cisadane airnya sempat besar terbukti dengan adanya bekas sapuan air di batas atas tebingan Cisadane. Berjam-jam kami mancing di Cisadane tak satupun Ikan yang kami dapatkan, sesekali kami berpinda Spot karna di Spot yang kami tempati selalu tersangkut sampah plastik. Akhirnya keyakinan kami pundar dengan harapan akan mendapatkan ikan, dikarnakan banyaknya sampah plastik dan ditambah lagi banyaknya ikan sapu-sapu, Apa benar Cisadane Banyak ikannya?

Kamis, 26 Mei 2011

Banjir terjadi di Cisadane Kota Bogor Tjiliwoeng Tidak? Ada apakah sama sungai ini.


pada tanggal 26 mei 2011 hujan tidak terlalu deras di kota Mbogor menyebabkan tinggi nya Debit air sungai cisadane. entah apa yang terjadi di hulu, mungkin hujannya deras di hulu cisadane dugaanku sehingga mengakibatkan sungai Cisadane mengamuk warga yang tinggal di bantarannya.Banjir-Banjir Tutur seorang warga di daerah kebon kelapa, sungai apa yang banjir pak tanya ku? ini mas sungai cisadane sekitar 40 rumah kerendem. bukanya sungai yang satu ini jarang terjadi banjir tanyaku dalam hati, jadi apa yang terjadi sama Cisadane kalau terjadi banjir kayak begini raba-raba hatiku melontarkan pertanyaan padaku sendiri. Mungkinkah nasib Cisadane sama persis seperti yang di alami oleh Ciliwung 2010? akibat sampah aliranya jadi kesumbat sehingga menjadikan Cisadane meluap. padahal hujan di kota Bogor ngak terlalu Besar, tetapi alhamdulillah Banjirnya ngak terjadi juga di Tjiliwoeng jawabku dalam hati. apa mungkin nasib Cisadane sama seperti nasib Tjiliwoeng? Sungai ini dijadikan halaman Belakang rumah semata yang dijadikan tempat sampah.
Kalau kepengen tau mengenai kedua sungai ini mari kita sama2 tenggok, lihat, pantau atau melakukan sesuatu yang lebih untuk kedua Sungai ini. sekecil apapun yang akan dilakukan di sungai ini pastinya akan membuahkan hasil yang besar bagi orang yang tinggal di bantarannya.

Hutan

Sumber Air Baku di Tamansari


Ketersedian air di wilayah hulu Cisadane masih terjaga dengan baik, jumlah airnya masih cukup melimpah. Kondisi itu lah yang terlihat di tiga bak penampungan air di wilayah hulu Sub DAS Ciapus – DAS Cisadane. Bak penampungan dibuat oleh masyarakat Kampung Bobojong untuk menampung air yang mengalir dari Sungai Ciapus, tujuannya untuk dijadikan sebagai air baku yang dapat dikonsumsi khususnya untuk minum dan memasak.

Lokasi bak penampungan dapat ditempuh dari Kampung Bobojong dengan berjalan kaki selama 30 menit dengan menelusuri jalan setapak kearah Gunung Salak. Sepanjang perjalanan menuju lokasi nampak membentang tanaman pohpohan yang dijadikan sebagai usaha oleh masyarakat setempat. Kondisi tiga bak penampungan sudah dibuat dengan ukuran dan bahan material yang berbeda. Satu diantaranya dibuat secara semi permanen dari tumpukan karung berpasir, sedangkan dua diantaranya dibuat secara permanen menggunakan semen. Lokasi antar ketiga bak penampungan tidak begitu jauh, semua terhubung oleh pipa-pipa yang sudah dipasang dari hulu ke hilir.

Air baku yang dihasilkan berasal dari aliran Sungai Ciapus, masyarakat membuat semacam saluran irigasi dari badan sungai yang diarahkan kepada bak penampung pertama. Air yang sudah tertampung kemudian disalurkan kepada bak penampung kedua dan ketiga yang lokasi berada dibawah. Proses pendistribusian antar bak menggunakan sistem gravitasi, sehingga air dapat mengalir melalui pipa-pipa yang sudah dipasang. Jumlah debit air yang dihasilkan belum dapat diketahui oleh masyarakat, karena selama ini masyarakat tidak pernah menghitungnya, yang terpenting bagi mereka ketersedian air tetap terjaga.

Ada tiga desa di Kecamatan Tamansari yang sudah menerima manfaat, yaitu Desa Tamansari, Desa Sukaresmi dan Desa Saluyu. Selain itu, sumber air baku juga dimanfaatkan oleh beberapa pemilik perusahaan maupun pribadi, seperti Yayasan Budha, Dian Wisata serta vila-vila di sekitarnya. Diperkirakan ada lebih dari 2500 KK pengguna air baku di Wilayah Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor.

Vitalnya keberadaan bak penampung, belum didukung oleh jaminan keamanan dan perawatan di lapangan. Rentannya keberadaaan bak penampung karena berada di bantaran sungai, sehingga jika terjadi banjir bandang maka akan mengakibatkan kerusakan pada bak dan pipa saluran bahkan terkadang hilang terbawa arus. Kejadian tersebut dapat berdampak terhadap berkurangnya pasokan air ke beberapa wilayah termasuk pengguna yang lain. Biasanya paska banjir bandang pasokan air dapat terhenti sekitar 3 – 7 hari, tergantung tingkat kerusakan. Apa jadinya jika bak penampung air tersebut hancur? Bisa dibayangkan apa dampak sosial akibat dari kejadian tersebut…

Sandika Ariansyah

Sabtu, 21 Mei 2011

Sungai Cianten, Kebutuhan dan Pemanfaatan Airnya

Sungai Cisadane memang tidak asing didengar sebagian besar masyarakat Jawa Barat. Namun di setiap daerah nama anak sungai ini berbeda namanya. Sebut saja Sungai Cianten yang mata air yg hulunya berasal dari Gunung Halimun Salak. Sungai Cianten melewati Desa Purasari, Desa Purasaeda, Desa Karyasari, dan Desa Karacak, semuanya berada di Kecamatan Leuwiliang.

Sungai Cianten ini dimanfaatkan untuk mengairi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Karacak. Bukan hanya itu Sungai Cianten pun dimanfaatkan untuk diambil pasir dan batunya bukan untuk skala besar hanya untuk skala kecil. Yaitu untuk membangun rumah penduduk setempat, pesantren dan fasilitas umum lainnya.

Seperti sungai yang lainnya di Jawa Barat, Sungai Cianten dimanfaatkan masyarakat bantaran sungai untuk mandi dan mencuci pakaian. terutama di daerah desa Puraseda dan Purasari yang daerah perumahan nya dekat dengan sungai dan landai tidak curam. Oleh karena itu masyarakat sekitarpun memanfaatkan sungai cianten untuk memelihara ikan dengan cara berkeramba yang terbuat dari bambu dan ada juga yang terbuat beton. Ini dilakukan untuk menambah pendapatan hidup masyarakat yg sebagian besar menjadi petani dan pedagang jasa.

Selasa, 17 Mei 2011

obrolan kecil tentang kedua anak sungai Cisadane


pada tanggal 16/05/2011 obrolan kecil tentang sungai yang berjumlah 3 orang lokal dan satu orang asing dari india yang tinggal di amrik. obrolan ini sendiri di gagas oleh mbak rita mustikasari dari AIR telapak, obrolan ini sendiri mengenai apa yang terjadi di sungai di jawa barat dan mengenai beberapa blong yang perduli akan sungai-sungai yang ada di Indonesia.

di sela-sela obrolan ada seorang bule india yang datang menghampiri kami bertiga, ternyata bule itu kenal sama mbak rita sembari menghampiri kami bertiga si bule menyapa how are you? di jawab oleh mbak rita i am fine. hey vijay dari mana kamu sapa mbak rita? saya dari Cifor mau kemana? ke giant is ok ini kenal kan kedua temanku nama nya hari kikuk dari KPC dan andy, kita saat ini ngobrolin apa yang terjadi di sungai di indonesia dan apa yang akan kita lakukan kalau melihat sungai yang kotor.

oh ya jawab vijay saya juga minggu kemaren ikutan acara di dalam kebun raya rita di dekat sungai ciliwung bersama kawan-kawan jakarta. wah tob itu kata ku apa yang dilakuakan oleh kawan-kawan jakarta di kebun raya vijay tanyaku kita nanam pohon dan bermain air bersama anak-anak sekolah yang ada di bogor.

setelah saling sapa dengan vijay mbak rita minta ijin melanjutkan obrolan kami tentang sungai cisadane dan beberapa anak sungai cisadane yaitu sungai cikaniki dan sungai cianten yang mana di kedua anak sungai cisadane ini mbak rita dan hari dan andy kepengen berbuat sesuatu terhadap kedua anak sungai ini, mbak rita menyarankan ke andy memetaka kebun durian yang ada di hulu cianten sedangkan ke hari masih belum tau bentuknya seperti apa.

berdasarkan obrolan yang direplikasi dari sebuah gerakan komunitas yang perduli tjiliwoeng yang OTB. akhirnya mbak rita ngimana menurutmu ri kalau di cikaniki apa yang akan kamu lakukan? mungkin kalau di lihat dari obrolan-obrlan kecil mengenai KPC ngimana kalau aku sama andi saling mengunjungi kedua anak sungai ini dengan di susuri mbak? wah ok banget itu ri kalau begitu pasti akan ada yang di cari atau apa yang akan di perbuat dengan susur itu. yaa kalau itu pasti tinggal kita cari apa yang terjadi di kedua sungai ini mbak. ok lah kalau begitu lakukan saja dulu biar kita pikirkan lagi apa aja yang kita akan lakukan lagi terhadap kedua anak sungai cisadane ini.

Sabtu, 14 Mei 2011

Siapa yg punya otoritas di Sungai Cisadane

Jika kita mengetik Cisadane di google sudah ribuan blog tersedia di sana, menawarkan berbagai informasi tentang sungai ini. semangat untuk menuliskan blog seperti ini kembali tergugah saat seorang kawan bertanya, sebetulnya siapa yg bertanggung-jawab atas sungai cisadane? atau sungai-sungai lain yg ada di jawa barat ini?

ooo jelas itu Kementrian Pekerjaan Umum yg bertanggung-jawab di sana. Ah ya tidak, tapi Dinas Kebersihan lah yg bertanggung-jawab untuk menanggulangi sampah. Namanya aja Dinas Kebersihan yah jelas tugasnya untuk bersih-bersih. Lho bukannya tugasnya Kementrian Lingkungan Hidup karena ini khan menyangkut soal lingkungan. Yah jelas BBWS (balai besar wilayah sungai, satu UPT di bawah kementrian PU) Ciliwung-Cisadane dong atau BPDAS Citarum-Ciliwung yg kantornya di Komplek Yasmin seberang Giant. UPT milik Kementrian PU ini memang khusus wilayah kerjanya di Sungai Cisadane. Lho kok BPDAS nya Citarum-Ciliwung yah yg BPDAS Cisadane dimana yah? Ah banyak sekali kelembagaan pemerintah yg ada yg ngurus nih sungai.

Sang teman malah tambah bingung. Padahal saya cuman mau tanya, kalau saya punya ide untuk mengembangkan ikan hias yg ada di Sungai Cisadane, saya bisa pergi kemana? Maaf kawan ternyata pertanyaan sederhana itu tidak punya jawaban yg sederhana.

Cikaniki anak Cisadane

Cikani adalah salah satu anak sungai Cisadane, beragam aktivitas masyarakat yang tinggal di bantaran Cikaniki, ada yang petani, Penambang, ada yang memanfaatkan Cikaniki sebagai MCK, ada yang memanfaatkan aliran sungai airnya sebagai pengairan empang atau kolam ikan, dan ada yang memanfaatkan sebagai tenaga pengerak gelundungan/mesin pengola emas.

Hulu Cikaniki ada di Gunung Halimun Salak, ada yang berasal dari curug macan salah satu curug mata air Cikaniki, ada yang dari mata air ciparempeng dan banyak anak sungai yang lainnya. Cikaniki sendiri kini amat malang nasibnya karna tak jauh dari hulunya di bantaran sungai ini ada nmanya Cigoha yang mana di Cigoha banyak sekali para pengelola tambang emas liar yang melakukan aktivitas nya di daerah itu. untuk nama tambang yang besar yang di kelolah pemerintah Kabupaten Bogor ini nama tambang itu sebenarnaya cukup terkenal di seluruh siantaro negara kita, karna perusahaan tambang ini milik BUMN yaitu Aneka tambang (ANTAM). perusahaan ini sebagian kecilnya mengelolah hasil tambang emas, nikel DLL. untuk Cikaniki sendiri nasibnya sekarang kalau musim kemarau yang mana kalau dulu sebelum ada perusahaan Tambang (ANTAM) air nya cukup jernih, tapi kini entah kemarau, entah musim penghujan Cikaniki air nya keruh. banyaknya aktivitas warga yang megelola emas secara ilegal membuat kejernihan Cikani kini terancam tak hanya penambang liar yang membuang limbahnya ke Cikaniki kemungkan besar limbah ANTAM juga pasti ada yang bocor dan mencemari sungai ini.

Apa yang harus kita lakukan kalau kita ingin mengembalikan Cikaniki seperti sedia kalla? Apa perlu kita menunggu para pemerintah bergerak tampa ada kegiatan yang mempuni di warganya sendiri? endak toh

maka dari itu ayo kita bersama-sama kita selamatkan Cikaniki kita, kalau kita berupaya menyelamatkan Cikaniki bukan tindak mungkin kita juga menyelamatkan Cisadane.

Cikaniki anaknya Cisadane. Cisadane adalah induk dari Cikaniki, lantas apa yang akan kita perbuat terhadap anak dan induk sungai yang ada di Jawa Barat ini?
Apa mungkin kita akan cari datanya atau mungkin kita akan jadi pelaku yang sama bersama-sama mencemari Cikaniki seperti penambang yang lain?

Lalu bagaimana kita kalau ingin mengenal Cikaniki dan Cisadane? cintai, rawat, pantau, lakukan atau aku singkat dengan kata (CRPL). Mungkin dengan cara ini kita bisa atau ada cara yang lain yang bisa menjelaskan padaku tentang apa yang harus aku lakukan kalau aku pengen tau, apa yang pantas dilakukan di sungai ini, tolong jawab kalau ada yang punya jawaban yang pas?

Pencemaran bukan berarti tidak bisa di hentikan kalau memang kita menghendaki pencemaran itu tak terulang. Jangan hanya menyalahkan pencemaran itu kalau memang kita ngak akan melakukan sesuatu yang berarti atas apa yang tercemar, Betul tidak.

nantikan tulisan tulisan berikutnya apa yang terjadi di Cikaniki dan Cisadane

Jumat, 13 Mei 2011

Daerah Aliran Sungai Cisadane

Sebagian besar kawasan Daerah Aliran Sungai atau sering disingkat DAS Cisadane berada di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Bogor menjadi kawasan hulu DAS Cisadane. Kawasan ini relatif masih hijau karena banyak pepohonan, walau tidak sepenuhnya bisa disebut hutan. Kawasan tengah DAS Cisadane meliputi Kota Bogor dan kawasan hilirnya berada di wilayah administratif Tanggerang.

Kabupaten Bogor beruntung karena dilewati dua buah sungai besar, Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane. Informasi soal Ciliwung bisa dilihat di Blog KPC (Kelompok Peduli Ciliwung). Tapi Sungai Cisadane belum.