Senin, 27 Juni 2011

Pembentukan karakteristik terhadap petani




Kunjungan ku di kampung tapos bersama telapak dan aqua(danone) dilakukan pada hari Sabtu 25 Juni 2011. Dari Telapak yg ikut adalah Rina, Gubernur Jabagbar Telapak dan Rita Koordinator Program Air. Dari Aqua Danone yg ikut adalah Pak Kustiawan dan Pak Arif dari CSR Danone Jakarta dan dua orang dari CSR Danone Cicurug.

Di kegiatan ini kita hanya mengantar orang aqua untuk bertemu ketua kelompok tani yang ada di tapos selain itu kita melihat sumber mata air yang keluar di bawah rumpun bambu hasil penghijauan masyarakat kampung Tapos.

Pada saat ngobrol bareng bersama pa Jaja (ketua kelompok tani) dan pa Arif (aqua). konsep kelompok tani yang di kelola pak Jaja (kelompok tani lindung harapan) mereka bukan hanya mengutamakan materi saja tapi mereka juga lebih kepada mensejahterakan masayarakat tapos khusus nya di lidung harapan. Kesadaran lingkungan nya sangat diterapkan di kelompok tani ini seperti melindungi mata air yang ada. dengan menanam pohon bambu yang ada disekitar mata air.

Selain itu menurut cerita pak Arif tentang kelompok tani yang ada di Cicurug. Cerita antara Cicurug (Pak Arif) dan Kelompok tani lindung harapan (Pak Jaja) sangat berebeda. Menurut ceritanya pak Arif. Konsep nya aqua di Cicurug itu lebih ke konservasi nya. Jadi perusahaan Danone Aqua memberi fasilitas seperti memberi pohon untuk ditanam di sekitar mata air. Selain itu untuk pemeliharaan pohon nya pun mesti mengeluarkan biaya terus menerus oleh aqua. menurut saya kepedulian terhadap lingkungan sangat kurang. Bebeda dengan kelompok tani lindung harapan..

Dari kedua cerita tersebut aku ingin Desa Tamansari menerapkan konsep lingkungan seperti terjadi di Tapos. Seperti apa yang di ceritakan oleh pak jaja. Karena pada dasarnya petani di Tamansari kurang perduli terhadap lingkungan. khususnya pada sumber mata air dan bahkan dalam praktek pertanian yg dilakukan sehari-hari. Mereka mau menanam bila harga jual mahal. Karena itulah aku ingin Tamansari ingin konsep nya seperti kelompok tani lindung harapan.

Selasa, 31 Mei 2011

Jenis tanaman dan gerakan menanam

Sempadan sungai sering disebut juga disebut bantaran sungai. Namun sebenarnya ada sedikit perbedaan, karena bantaran sungai adalah daerah pinggiran sungai yang tergenang air pada saat banjir atau dikenal dengan bantaran banjir. Sedangkan sempadan sungai adalah daerah bantaran banjir ditambah lebar longsoran tebing sungai (sliding) yang mungkin terjadi, lebar bantaran ekologis dan lebar bantaran keamanan yang diperlukan, terkait dengan letak sungai (missal untuk areal pemukiman dan non-pemukiman) (Maryono, 2003).

Sempadan sungai, terutama di bantaran banjir merupakan daerah ekologi sekaligus hidrologis sungai yang sangat penting. Sempadan sungai tidak dapat dipisahkan dengan badan sungainya, karena merupakan kesatuan ekologis dan hidrologis dalam ekosistem sungai.

Gambar 1. Tipe umum penampang sungai dan penentu lebar daerah sempadan sungai.






Secara ekologis sempadan sungai merupakan “habitat ekosistem sungai berkembang”. Komponen vegetasi secara alami akan mendapatkan hara dari sedimentasi, selanjutnya vegetasi tersebut berfungsi sebagai pemasok untrisi untuk komponen fauna sungai dan sebaliknya. Dari proses tersebut terjalin suatu hubungan yang saling terkait atau mutualisme.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 102 jenis tumbuhan dan 3 jenis bambu yang ditaman di bantaran dan sempadan DAS Ciliwung dan Cisadane (pratiwi, 2000). Kategorisasi jenis tumbuhan yang ditanam termasuk penghasil buah, pelindung/tanaman hias, dan penghasil kayu.

Beberapa jenis pohon alami dan budidaya yang sangat berpotensi sebagai penahan erosi yang umum di jumpai di pinggiran sungai yaitu:
















Keberadaan komponen vegetasi harus terus dipertahankan keberadaannya, seperti jenis-jenis pohon diatas yang saat ini sudah mulai berkurang jumlahnya di alam akibat degradasi lingkungan oleh maraknya pembangunan yang tidak ramah lingkungan serta kesadaran manusia untuk mau menjaga dan melestarikan Sungai. Bagaimanapun sungai berikut bantaran dan sempadannya memiliki peran yang sangat penting dalam ekosistem DAS (Daerah Aliran Sungai).

Untuk itu kegiatan penanaman pohon atau reboisasi harus terus dilakukan baik secara individu maupun kelompok secara massif, agar ketersedian pohon tidak hilang. Karena bisa dibayangkan jika pepohonan di pinggir sungai tidak ada, maka bencana tidak akan terelakan lagi.

Kegiatan menanam untuk membantu memperbaiki kondisi ekosistem harus terus di galakan sehigga tercipta keseimbang alam untuk keberlanjutan hidup di masa mendatang. Dalam kontek ini, Iwan Fals sebagai maestro sudah menulis syair lagu dengan judul “Taman Siram Tanam”, berikut liriknya:

Tanam Siram Tanam
Iwan Fals

Tanam tanam tanam kita menanam
Tanam pohon kehidupan
Kita tanam masa depan

Tanam tanam tanam kita menanam
Jangan lupa disiram
Yang sudah kita tanam

Siram siram siram yo kita siram
Apa yang kita tanam
Ya mesti kita siram

Tanam tanam pohon kehidupan
Siram siram sirami dengan sayang
Tanam tanam tanam masa depan
Benalu benalu kita bersihkan

Biarkan anak cucu kita belajar dibawah pohon
Biarkan anak cucu kita menghirup udara segar
Biarkan mereka tumbuh bersama hijaunya daun
Jangan biarkan mereka mati dimakan hama kehidupan

Tanam tanam tanam ... siram
Tanam tanam tanam ... oi
Tanam tanam tanam ... siram
Tanam tanam tanam

Sabtu, 28 Mei 2011

Pulang Mulung Bibit Beringin & Nyamplung KPC, Kami Memancing di Cisadane.


pada tanggal 28/05/2011 hari sabtu pagi kebetulan saya dan kawanku Asun (Sudirman Asun) Jakarta Glue seperti biasa kawan ini mengginap di Mbogor, demi menggikuti program mingguan orang-orang gila yang perduli terhadap sungai Tjiliwoeng, Mulung bibit semai beringin dan nyamplung. kegiatan ini dipusatkan di sekitar Sekret Pencinta Alam Lawalata Kampus IPB darmaga. Semai/bibit yang kami kumpulkan nantinya akan kami tanam di Bantaran Tjiliwoeng. Kebetulan memang pada kesempatan mulung bibit kali ini di pimpin langsung oleh komandan KPC, Mas oiq (hapsoro) Setelah Beliau Lama menggemban tugas kantornya Ke kalteng, Maklum orang sibuk begitu kiranya orang kita menyebutnya.
di kesempatan mulung bibit kali ini yang di pimpin langsung sang kumendan alhamdulillah orang sukarelawan agak banyakan yang ikutan, mulai dari anak-anak, balita, ibu-ibu, bapak-bapak, sampai kakek-kakek pun ada. jumlah orang yang ikutan mulung bibit kali ini 2 balita. 1 anak-anak,1 ibu-ibu,5 bapak-bapak, 1 kakek-kakek dan satu lagi pejantan om asun, maklum saja walau di sekitar hiruk pikuk yang ada di kalangan kampus, hilir mudiknya mahasiswa dan mahasiswi tak membuat kecut nyali kami, karna kegiatan yang kami (KPC) lakukan hanya keikhlas semata, Tampa ada rasa malu sedikitpun di hati kami. Biar orang lain menyebut kami orang gila sekalipun kami ikhlas, toh gak gila beneran. kadang kami (KPC) di sebut orang-orang gila yang kerjaannya hanya jadi setan sampah/setan spanduk, "Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak" yang sedikit melakukan sesuatu, tapi kami yakin hal Kecil yang kami lakukan nantinya akan berguna bagi orang banyak. setelah menjadi julukan setan diatas kami sekarang punya sebutan lagi, setan semai/bibit nyamplung dan beringin, dasar setan yaaa..... Kerjaannya jadi penggangu Warga Bantaran (DAS), supaya jadi lebih perduli terhadap Tjiliwoeng.
Setelah selesai Kegiatan mulung semai/bibit KPC Saya (Hari Kikuk) dan om Asun memutuskan ngimana kalau selepas kegiatan ini kita mancing, di dekat rumah Mas yoyon (Markus Ratryono) Anggota KPC yang tinggal di dekat sungai Cisadane. Ideku di Amini oleh om asun boleh juga tuh, setelah habis mulung bibit kita terlebih dahulu menyempatkan makan siang di kantin dalam Kampus IPB, setelah makan siang kami pun meluncur ke Cisadane. Dalam perjalan kami berdua sesekali ngobrolin sungai Cisadane ini seperti apa? wah katanya di sungai Cisadane buanyak ikannya om tapikan.... Kita masih asing dengan sungai ini, walaupun Cisadane terkenal akan sejarahnya. Pada massa lampau Cisadane adalah sungai yang dijadikan alat tranportasi jalur sungai oleh Raja-Raja terdahulu. Sampai sekarang sungai ini memiliki nilai sejarah yang cukut erat, akan sejarah Raja-Raja yang pernah ada di Jawa Barat, hingga saat ini petilasan Raja yang pernah melewati Cisadane ini ada di daerah Ciapea, dengan adanya Situs tapak kaki seorang Raja terkenal era kerajaan taruma negara yang berasal dari kutai. Sri Purawarman adalah raja yang pernah singgah dan mendirikan Istananya di Jawa Barat. Kerajaan ini adalah kerajaan Hindu-Budha tertua keduan setelah Majapahit di Indonesia.
Tak terasa obrolan kami berdua akhirnya menghantarkan kami ke tempat tujuan, setelah sampai ke tempat yang kami tuju, kami saling sapa dengan mas Yoyon yang telah dahulu sampai.
hai mas Spot mancing yang bagus di Cisadane dimana mas? Oh....; kalau itu mah, ada di belakang rumahku kearah rimbunan bambu jawabnya.
Wah kalau kalian Mancing sekarang kebetulan sekali itu pas waktunya, karna apa kemaren malam Cisadane Banjir airnya hampir mencapai batas tebing di sebelah rumahaku. Alhamdulillah Rumah kawanku tidak kebanjiran alias airnya ngak sempat naik melebihi batas tebingan Cisadane.
Ya.....; Sudah sambil ngobrol ayo aku antarkan ke Spot yang kalian ingginkan semoga kalian beruntung mendapatkan ikan, sesampainya di Spot yang kami tuju ternyata benar kata mas Yoyon Cisadane airnya sempat besar terbukti dengan adanya bekas sapuan air di batas atas tebingan Cisadane. Berjam-jam kami mancing di Cisadane tak satupun Ikan yang kami dapatkan, sesekali kami berpinda Spot karna di Spot yang kami tempati selalu tersangkut sampah plastik. Akhirnya keyakinan kami pundar dengan harapan akan mendapatkan ikan, dikarnakan banyaknya sampah plastik dan ditambah lagi banyaknya ikan sapu-sapu, Apa benar Cisadane Banyak ikannya?

Kamis, 26 Mei 2011

Banjir terjadi di Cisadane Kota Bogor Tjiliwoeng Tidak? Ada apakah sama sungai ini.


pada tanggal 26 mei 2011 hujan tidak terlalu deras di kota Mbogor menyebabkan tinggi nya Debit air sungai cisadane. entah apa yang terjadi di hulu, mungkin hujannya deras di hulu cisadane dugaanku sehingga mengakibatkan sungai Cisadane mengamuk warga yang tinggal di bantarannya.Banjir-Banjir Tutur seorang warga di daerah kebon kelapa, sungai apa yang banjir pak tanya ku? ini mas sungai cisadane sekitar 40 rumah kerendem. bukanya sungai yang satu ini jarang terjadi banjir tanyaku dalam hati, jadi apa yang terjadi sama Cisadane kalau terjadi banjir kayak begini raba-raba hatiku melontarkan pertanyaan padaku sendiri. Mungkinkah nasib Cisadane sama persis seperti yang di alami oleh Ciliwung 2010? akibat sampah aliranya jadi kesumbat sehingga menjadikan Cisadane meluap. padahal hujan di kota Bogor ngak terlalu Besar, tetapi alhamdulillah Banjirnya ngak terjadi juga di Tjiliwoeng jawabku dalam hati. apa mungkin nasib Cisadane sama seperti nasib Tjiliwoeng? Sungai ini dijadikan halaman Belakang rumah semata yang dijadikan tempat sampah.
Kalau kepengen tau mengenai kedua sungai ini mari kita sama2 tenggok, lihat, pantau atau melakukan sesuatu yang lebih untuk kedua Sungai ini. sekecil apapun yang akan dilakukan di sungai ini pastinya akan membuahkan hasil yang besar bagi orang yang tinggal di bantarannya.

Hutan

Sumber Air Baku di Tamansari


Ketersedian air di wilayah hulu Cisadane masih terjaga dengan baik, jumlah airnya masih cukup melimpah. Kondisi itu lah yang terlihat di tiga bak penampungan air di wilayah hulu Sub DAS Ciapus – DAS Cisadane. Bak penampungan dibuat oleh masyarakat Kampung Bobojong untuk menampung air yang mengalir dari Sungai Ciapus, tujuannya untuk dijadikan sebagai air baku yang dapat dikonsumsi khususnya untuk minum dan memasak.

Lokasi bak penampungan dapat ditempuh dari Kampung Bobojong dengan berjalan kaki selama 30 menit dengan menelusuri jalan setapak kearah Gunung Salak. Sepanjang perjalanan menuju lokasi nampak membentang tanaman pohpohan yang dijadikan sebagai usaha oleh masyarakat setempat. Kondisi tiga bak penampungan sudah dibuat dengan ukuran dan bahan material yang berbeda. Satu diantaranya dibuat secara semi permanen dari tumpukan karung berpasir, sedangkan dua diantaranya dibuat secara permanen menggunakan semen. Lokasi antar ketiga bak penampungan tidak begitu jauh, semua terhubung oleh pipa-pipa yang sudah dipasang dari hulu ke hilir.

Air baku yang dihasilkan berasal dari aliran Sungai Ciapus, masyarakat membuat semacam saluran irigasi dari badan sungai yang diarahkan kepada bak penampung pertama. Air yang sudah tertampung kemudian disalurkan kepada bak penampung kedua dan ketiga yang lokasi berada dibawah. Proses pendistribusian antar bak menggunakan sistem gravitasi, sehingga air dapat mengalir melalui pipa-pipa yang sudah dipasang. Jumlah debit air yang dihasilkan belum dapat diketahui oleh masyarakat, karena selama ini masyarakat tidak pernah menghitungnya, yang terpenting bagi mereka ketersedian air tetap terjaga.

Ada tiga desa di Kecamatan Tamansari yang sudah menerima manfaat, yaitu Desa Tamansari, Desa Sukaresmi dan Desa Saluyu. Selain itu, sumber air baku juga dimanfaatkan oleh beberapa pemilik perusahaan maupun pribadi, seperti Yayasan Budha, Dian Wisata serta vila-vila di sekitarnya. Diperkirakan ada lebih dari 2500 KK pengguna air baku di Wilayah Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor.

Vitalnya keberadaan bak penampung, belum didukung oleh jaminan keamanan dan perawatan di lapangan. Rentannya keberadaaan bak penampung karena berada di bantaran sungai, sehingga jika terjadi banjir bandang maka akan mengakibatkan kerusakan pada bak dan pipa saluran bahkan terkadang hilang terbawa arus. Kejadian tersebut dapat berdampak terhadap berkurangnya pasokan air ke beberapa wilayah termasuk pengguna yang lain. Biasanya paska banjir bandang pasokan air dapat terhenti sekitar 3 – 7 hari, tergantung tingkat kerusakan. Apa jadinya jika bak penampung air tersebut hancur? Bisa dibayangkan apa dampak sosial akibat dari kejadian tersebut…

Sandika Ariansyah

Sabtu, 21 Mei 2011

Sungai Cianten, Kebutuhan dan Pemanfaatan Airnya

Sungai Cisadane memang tidak asing didengar sebagian besar masyarakat Jawa Barat. Namun di setiap daerah nama anak sungai ini berbeda namanya. Sebut saja Sungai Cianten yang mata air yg hulunya berasal dari Gunung Halimun Salak. Sungai Cianten melewati Desa Purasari, Desa Purasaeda, Desa Karyasari, dan Desa Karacak, semuanya berada di Kecamatan Leuwiliang.

Sungai Cianten ini dimanfaatkan untuk mengairi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Karacak. Bukan hanya itu Sungai Cianten pun dimanfaatkan untuk diambil pasir dan batunya bukan untuk skala besar hanya untuk skala kecil. Yaitu untuk membangun rumah penduduk setempat, pesantren dan fasilitas umum lainnya.

Seperti sungai yang lainnya di Jawa Barat, Sungai Cianten dimanfaatkan masyarakat bantaran sungai untuk mandi dan mencuci pakaian. terutama di daerah desa Puraseda dan Purasari yang daerah perumahan nya dekat dengan sungai dan landai tidak curam. Oleh karena itu masyarakat sekitarpun memanfaatkan sungai cianten untuk memelihara ikan dengan cara berkeramba yang terbuat dari bambu dan ada juga yang terbuat beton. Ini dilakukan untuk menambah pendapatan hidup masyarakat yg sebagian besar menjadi petani dan pedagang jasa.