Selasa, 06 Januari 2015

Ayooo........ kita kenali sungai sekitar kita (SAVE OUR RIVER)

Ayo kawan kita kenali sungai sekitar kita, gali potesinya, siapa pemanfaatnya serta siapa yang menerima manfaatnya? Save River Save River Save River no River Site private, Yes a River go public mybe.

Pada tanggal 10-11 Januari 2015 Komunitas wilayah Ciliwung Cisadane (KWCC) bersama Recikal Tani lestari, Cisadane Institute, Badan teritorial Telapak Jawa bagian Barat (BTJabagbar), Pencinta Alam Institute Pertanian Bogor (Lawalata IPB), Ciliwung Institute (CI) dan para pihak yang memiliki konsen terhadap sungai akan melakukan susur anak sungai Cisadane. bagi anda yang ingin bergabung silakan kontak kami. berhubung kegiatan susur ini akan kami lakukan di tanggal !0 Januari jam 06.00WIB diharapkan para peserta datang atau berkumpul pada tanggal 9 Januari 2015. Para peserta yang akan ikutan susur akan panitia tempatkan dirumah Hari Keuhkel dan masyarakat kampung Ciketug Rt01/Rw04 untuk tempat menginap pada tanggal 9 malam. Kegiatan Susur ini mengikuti Jejak susur Ciliwung yang pertama kali dilakukan pada tanggal 8-9 Januari 2011, sehingga diharapkan bisa meyambungkan angkanya 8,9,10 dan 11 Januari di tahun yang berbeda.

Sebagai catatan: Kegiatan susur ini Volutary, Komsumsi dan ongkos menuju dan pulang tidak di tanggung oleh panitia. serta tidak menutupi kemungkinan jika ada yang mau berkenan untuk menyumbangkan sebagian rejekinya untuk mendukung kegiatan susur sungai ini dan meringankan beban untuk biaya makan selama kegiatan berlangsung, silakan kontak kami. Untuk yang ingin mendukung atau menyumbangkan sebagian rejekinya silakan kontak panitia kami atas nama Hari keuhkel 08561235298 atau kontak persen lainya yang tertera di ajakan kegiatan ini. setelah kegiatan ini selesai, seminggu paska kegiatan susur akan dilakukan penanaman pohon di lahan masyarakat di kampung Ciketug Lebak Rt 01/Rw 04 Kel. Pangkal Jaya Kec. Nanggung Kab. Bogor.

catatan tambahan: Bagi para peserta yang mengikuti susur sungai ini diharapkan membawa perlengkapan kebutuhan lapangan.

Selasa, 16 Desember 2014

Hari Tanah Internasional dan Rangkaiannya Untuk Anak Cucu.

Bertepatan dengan hari Tanah Dunia yang jatuh pada tanggal 5 Desember 2014 anak-anak himpunan mahasiswa ilmu tanah IPB merayakan Hari Tanah Dunia bersama Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane dan  SATGAS Pengelolaan Sampah Faperta Hijau, dengan berkampaye membagikan Stiker pada para penjalan kaki yang membawa makanan.
 Maksud dari kampaye ini sendiri adalah mengigatkan para pejalan kaki yang membawa bawaan berupa makanan ataupun minuman yang mengandung plastik supaya tidak membuang sampahnya sembarang yang akan mengakibatkan Tanah dan Air tercemar. Ihsan ketua HMIT (himpunan mahasiswa/i ilmu tanah) bersama Hari Yanto (hari kikuk) dan Andri mengajak para pejalan kaki menghormati Tanah dengan tidak membuang sampah sembarangan yang nantinya akan mencemari tanah dan air. Ihsan menambahkan dalam rangka hari Tanah Internasional ini juga HMIT mengadakan diskusi di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi untuk terjun lapang ke hulu sungai Ciliwung dan diskusi tentang permasalahan Agraria menjadi topik pilihan serta mengundang Dekan Fakultas pertanian Institute Pertanian IPB Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr sebagai pembicara dalam serangkaian hari Tanah Dunia. 
Dalam pemaparannya Dr. Ir. Ernan Rustiadi. M. Arg memaparkan tentang permasalahan sampah dan prilaku manusia yang kurang menghormati Tanah, serta terkait sejarah terbentuknya Universitas Institute Pertanian Bogor. Dimana IPB di resmikan oleh Presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno yang pada pidatonya juga mengundang seluruh rakyat, petani di Indonesia pada saat itu juga di hadiri oleh pak Toyib. Tentang ketahanan pangan merupakan hidup mati negara Indonesia.
 
Selain itu Dr. Ir. Ernan Rustiadi. M. Arg juga menjelaskan akan pentingnya ketahanan pangan bagi Negara Indonesia dimana pulau jawa yang merupakan hanya 6 persen dari daratan Indonesia menjadi tumpuan dan pemasok pangan sebesar 60 persen bagi seluruh rakyat Indonesia. 
Selain membahas terkait pertanian dan pasokan pangan Dr. Ir. Ernan Rustiadi. M. Arg. Juga menceritakan tentang hukum negara kita serta para pelaku penguasaan lahan bagi para konglomerasi Negara kita sendiri. Dimana para konglomerasi negri ini mementingkan dirinya sendiri ketimbang rakyat banyak. Padahal kalau bicara hukum, hukum sebenarnya sudah ada sejak dari jaman kerajaan yang kini kita kenal dengan nama hukum adat, sebenarnya hukum adat ini merupakan hukum yang turun temurun ketimbang hukum yang kita kenal saat ini, yang kita ikuti peraturannya sejak pada jaman penjajahan hindia belanda dimana pada jaman itu hanya orang yang berkuasa saja yang memiliki lahan yang luas, apa bedanya dengan sekarang? Hanya orang yang punya uang banyak yang memiliki tanah/lahan yang luas untuk kepentingan kalangan nya sendiri tampa memikirkan rakyat dan petani. Seharusnya kita memiliki batasan karna kalau ini terus dibiarkan maka ketahan pangan negara kita akan terancam dan petani juga tidak memiliki lahan sehingga menjadi pekerja di tanahnya sendiri nantinya. Tutur Ernan. Tapi berkaca dari hukum bahwasannya pada tahun 2013 dimana ada organisasi non pemerintah Yaitu AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara)  mengugat kementerian Kehutanan terkait permaslahan lahan hutan lindung yang mengacu pada hukum yang merunut pada pemerintahan Indonesia dimana Hutan Lindung maupun Kawasan hutan merupakan milik Negara, padahal didalamnya masih banyak masyarakat adat salah satu contohnya di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Papua, dan pulau Sulawesi di Nusantara ini yang masih hidup didalam hutan dengan rumah rumah yang berada di dalam hutan, dimana menurut hukum pemerintah kita itu tanah Negara. Padahal mereka juga sama (masyarakat adat) memiliki keyakinan bahwasanya apa yang mereka tempati dan tinggali merupakan warisan dari para leluhur masyarakat Adat itu. 
Namun pada tahun 2013 dimana pada saat itu Komisaris Jendral Aliansi Masyarakat Adat (AMAN) Ir.  Abdon Nababan, mengugat Kementerian kehutanan ke Mahkama Kontitusi (MK) terkait permasalahan Lahan dan Tanah Adat yang merupakan warisan leluhur itu dan dalam perjuangan memperjuangkan Hak masyarakat adat terkait tanah dan lahan mereka membuahkan hasil, sehingga bisa merubah hukum bahwasanya sejatinya hukum yang memang seharusnya jadi panutan adalah hukum Adat tutur Dr. Ir. Ernan Rustiadi. M. Agr pada mahasiswa/i yang hadir di acara serangkaian memperingati Hari Tanah Dunia. 

Oleh sebab itu seharusnya para penerus Bangsa seperti kalian(mahasiswa/i) inilah yang seharusnya kritis nantinya yang juga ikut memperbaharui dan memberikan masukan terkait kebijakan pemerintah tentang Agraria. Tentunya oleh sebab itu kalian akan tahu bahwasanya betapa pentingnya ilmu kalian tentang Ilmu Tanah yang kalian pelajari, di tambah kalian juga kemarin yang juga  terjun lapang di hulu sungai Ciliwung, dimana tentunya kalian melihat langsung apa yang terjadi di hulunya Ciliwung bahwasannya banyak di dapati pelangaran-pelangaran yang berkaitan dengan tataruang dan persoalan Agraria. Dimana bukan hanya petani yang merusak lahan hutan maupun hutan lindung namun juga banyak para konglomerasi Negri ini juga yang merusaknya bahkan orang-orang itu bukannya tak mengerti hukum, malahan mereka sangat ahli dalam hukum maupun yang seharusnya menegakkan hukum itu sendiri pun terlibat.  Jadi apa yang salah dari negri ini untuk mempertahankan persoalan pangan dan Agraria di tambah jika musim kemarau, air kering masyarakat sulit mencari air, air yang ada pun juga tercemar oleh sampah. Yaitu sungai-sungai di Bogor ini juga tercemar seperti halnya Ciliwung dan Cisadane padahal airnya masih di manfaatkan namun kalian lihat kondisinya seperti apa setelah kalian terjun lapang. Jadi gimana hasil pertanian kita akan sehat kalau airnya pun tercemar di tambah makin banyaknya para petani yang berharap hasil panennya melimpah yang mengunakan pupuk kimia, padahal itu belum tentu membuat hasil panen melimpah. Tutup Dr. Ir. Ernan Rustiadi. Agr. Dalam paparan serangkaian Hari Tanah Internasional yang jatuh pada tanggal 5 Desember 2014 kemarin. 

Minggu, 30 November 2014

Kampaye Sungai Ciliwung Cisadane di tataraan Campus IPB

Pada tanggal 30 November 2014, Satgas Pengelolaan Sampah Faperta Hijau IPB, berkampanye dan mengenalkan jati dirinya dalam upayanya menggapai mimpi Sungai Tjisadane bersih. Kami berharap mimpi ini juga dilihat di mata mahasiswa/i IPB. Kampanye dilakukan di Gedung Toyib, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, dan di pelataran Koridor Pinus.

Pada acara yang di inisiasi oleh  BEM  Faperta dan mahasiswa/i Agriphoria IPB, kami Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane (KWCC) juga berkesmpatan mengenalkan jati dirinya melalui kampaye. Kegiatan KWCC ini di persentasikan oleh Dr. Ir. Ernan Rustiadi selaku Dekan Fakultas Pertanian IPB di Gedung Toyib dan Hari Yanto (Hari Kikuk) di pelataran Koridor Pinus.

Hari Kikuk (baju biru) bersama pengunjung kampanye KWCC di Koridor Pinus, IPB.

Sebenarnya Acara di Pinus dan di Toyib adalah serangkaian, namun kita harus berbagi peran sembari mencari contoh yang kongkrit untuk menjadi narasumber untuk menginpirasi di kegiatan kami. Nah pada acara ini, ada beberapa narasumber yang berpersentasi, yaitu Een Dari KPC Bogor, Pak Ernan Dari Faperta Hijau, Pak Kamil yang menjelaskan tentang biopori.

Pada intinya, di acara ini, kami Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane (KWCC) dalam upaya hampir sama yaitu pengen menyelamatkan lingkugan. Seperti halnya Pak Kamil tentang biopori. Pak Kamil pengen bebrbuat sesuatu untuk mencegah air supaya tidak langsung masuk ke sungai.

Ditambah memang Kota Bogor merupakan kota hujan. Jadi belum tentu aman kalau musim kemarau datang, kata Pak Kamil. Contohnya dua tahun yang lalu, tahun 2012 Bupati Bogor didemo warganya karna susahnya mendapatkan air.  Oleh sebab itu, tutur Pak Kamil, mari kita salurkan air kita ke dalam tanah. Mari kita buat lubang biopori, tutup Pak Kamil.

Pak Ernan, Dekan Faperta IPB menjadi nara-sumber tentang pengelolaan sampah di Kampus Darmaga.

Senada dengan Een Irawan Putra, gimana pada tahun 2009 di Kota Mbogor, ada sebuah kelompok yang lahir dari hanya karna hobynya yang suka memancing di Sungai Ciliwung. Yaitu Hari Yanto (Hari Kikuk) dan Hapsoro (Alm). Dari kedua orang inilah kelompok KPC (Komunitas Peduli Ciliwung) ini terbentuk.

Yang kini saya geluti dengan ber-KPC dan berupaya menyelamatkan Tjiliwoeng tak perduli orangnnya banyak maupun sedikit, tak perlu perdebatan, tak perlu banyak omong, yang perlu adalah apa yang harus kita lakukan jika Ciliwung rusak? Bagaimana jika sungai banyak sampah dan tercemar?

Komunitas ini memiliki slogan Ciliwung Ruksak Hirup Balangsak, yang artinya jika Ciliwung ruksak hidup kita yang tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS) akan balangsak atau sengsara. Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Kota Bogor merupaka sebuah kelompok yang voluntary berkegiatan di Sungai Ciliwung di setiap pekannya.

Asun dari Komunitas Ciliwung.

Hal di atas sama persis dengan apa yang ingin dilakukan oleh Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane (KWCC) untuk menjawab mimpi Sungai Tjisadane yang berair bening, jernih ditumbuhi rerindangan pohon. Hal lain juga sungai dimanfaatkan oleh mansyarakat bantaranya dengan MCK. Bukan dijadikan tempat sampah maupun tempat buang limbah.

Karna, salah satu yang mendirikan Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane (KWCC) merupakan juga yang mendirikan Komunitas Peduli Ciliwung (KPC), oleh yaitu Hari Yanto Kikuk dan beberapa kawan-kawannya. Maka memang mimpi dan nama Tjiliwoeng juga di bawa ke Tjisadane yang bertujuan tetap melakukan sesuatu didekatnya tinggal.

Tak perduli itu sungai apa, tak perduli orang akan bilang apa, tak perduli dianggap gila. Yang Hari Yanto (Hari Kikuk) dan kawan-kawan pedulikan adalah apa yang perlu dilakukan untuk sumber kehidupan air Sungai Cisadane dan Ciliwung. Demi KWCC yang telah didirikannya bersama kawannya.

Slogannya pun sama yaitu Cisadane Ruksak Hirup Balangsak. Artinya: jika Cisadane rusak, hidup masyarakat di daerah aliran sungainya akan sengsara. Yang membedakan adalah cara dan upaya penyelamatannya. Jika di Ciliwung mulung sampah di sungai setiap hari Sabtu Pagi, di Cisadane memulai berkampanye merubah dan mengingatkan orang-orang dari segi prilaku tidak buang sampah sembarangan. Alasanya dimanapun orang buang sampah, ujung-ujungnya ke sungai dan muaranya ke laut.

Tempat sampah yang memisahkan antara sampah plastik/kertas dan sampah organik.

Nah pada kesempatan acara Handycraft  Argophoria di Koridor Pinus, Faperta IPB, Hari Yanto (Hari Kikuk) diminta menjadi juri kerajinan tangan dan inovasi. Kegiatan ini dilakukaan oleh anak-anak SMA terbaik bangsa di Indonesia.

Hari Kikuk menyampaikan visi missi Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane (KWCC) serta peranannya berkomunitas. Hal lain juga, upayanya menyelamatkan lingkungan di Indonesia khususnya sungai-sungai yang mengalir di Mbogor.




 

Berbagi Pengalaman dalam Pengelolan Sungai oleh Komunitas dimata Dunia.

Pada tanggal 28 November 2014 komunitas wilayah ciliwung cisadane (KWCC), Ciliwung Institute dan recikal tani lestari mengikuti pertemuan terkait pembahasan tentang kawasan puncak di Aula Ahmad Baeihaqi P4W IPB Baranangsiang kota Bogor.

Pada pembahasan dalam upaya penyelamatan puncak yang di lakukan oleh konsorsium penyelamatan puncak, kwcc juga ikutan terlibat serta mengenalkan komunitas wilayah ciliwung cisadane dan Recikal tani lestari pada para peserta yang hadir di pertemuan kawasan puncak yang di hadiri oleh komunitas pencinta sungai dari berbagai daerah di Indonesia hingga manca Negara. peserta komunitas pencinta sungai dari Indonesia terdiri dari Riska dari Ecoton sungai Brantas, Okka dari sungai DAS lamasi dan das bengkulu, Een Dari KPC Bogor, Mulyadi dari sungai kampar, Bob dan DWI dari Forest Watch Indonesia DAS Ciliwung dengan program Daerah tangkapan airnya, sudirman Asun Ciliwung Institute, Tedja Kusuma Komunitas Ciliwung Puncak, Dr. Ir  Ernan Rustiadi selaku narasumber yang mempersentasikan terkait permasalahan puncak dari P4W IPB serta Dekan Fakultas Pertanian IPB, Putri Cantika (utie) dari Comdev P4W Arif Rahman Comdev P4W IPB. Amin Sudrajat dari Recikal tani Lesrai, Andri dari Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane, Hari Yanto (kikuk) dari Ciiwung Cisadane serta Faperta Hijau IPB dan Ardi dari P4W IPB. sedangkan yang dari mancanegara ada dari ada Crista noe dari Both end  Belandan dan kawan-kawan dari benin dan kenya. 

Pembahasan terkait hulu Ciliwung ini sangat seru karna dinilai ada kesamaan dengan apa yang mereka para peserta dari luar negeri lakukan, cuman ada perbedaan dimana kekompakan para komunitas yang ada di Indonsia lebih solid dimata para tamu dari luar Negri itu.

Pembahasan hulu Ciliwung ini merupakan serangkaian yang di inisisi oleh para anggota Konsorsium penyelamatan Puncak dimana puncak sendiri berada di Gunung gede Pangranggo yang juga merupakan hulunya sungai Cisadane, Citarum dan Cimandiri. kalau dari Segi daerah aliran sungai Gunung gede Pangranggo merupakan salah satu gunung yang berada di propinsi Jawa Barat, yang meliputi kabupaten Bogor, sukabumi dan Cianjur. dengan linkup jelajah aliran sungai-sungainya meliputi: Sungai Ciliwung Kab. Bogor, Kota Bogor, Kota DEpok  dan Propinsi DKI Jakarta.  Cisadane Kab. Bogor, Kota Bogor, Tangerang dan propinsi Banten. Citarum Kab. Bogor, kota Bandung, karawang dan bekasi. Cimandiri Kab. Bogor, kota sukabumi dan kab. sukabumi.

Dalam kunjungan dari berbagai daerah ini selain ingin tau lewat persentasi yang di sampaikan oleh konsorsium juga ingin melakukan studi banding serta mengunjungi beberapa komunitas ciliwung di kab. Bogor, kota Bogor dan kota Depok. salah satu kunjungannya yaitu di komunitas ciliwung puncak, rungkun Awi, mesin pencacaah Komunitas Peduli Ciliwung kota Bogor dan komunitas Ciliwung Depok.
Yang akan dilakukan pada tanggal 29 Nov 2014 ke esokan harinya sembari mengikuti kegiatan memulung sampah di Ciliwung kota Bogor. Namun Sayang bagi komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane dan Recikal tani lestari karna hari sabtu suda ada janji dengan keluarga sehingga tidak bisa mengikuti kunjungan bersama para pengiat sungai Indonesia dan mancanegara. namun pada kunjungan lapangan ini juga di datangi oleh Rita mustika sari (itok) dari Imah Cai serta juga merupakan pengiat sungai dari Telapak, KPC Bogor Komunitas Wilayah Ciliwung Cisadane,  Das Lamasi, Way seputih, kampar, Brantas yang selama ini Rita Mustika sari lakukan dengan menyuarakan sungai-sungai Indonesia.

Upaya dalam pertemuan ini merupakan untuk menyelamatkan sungai-sungai di Indonesia dan berbagi pengalaman dengan Negara lain untuk saling mengetahui kondisi serta apa yang dilakukan oleh negara lain dalam hal penyelamatan sungai.
Ini yang kami lakukan ngimana dengan Anda, apa yang harus dilakakukan untuk keasrian sungai-sungai kita? 

   

Kamis, 27 November 2014

Mimpi komunitas cisadane dalam cerita perjalanan berkomunitas.

Komunitas wilayah Ciliwung Cisadane beraksi dengan cara yang berbeada demi upaya menyelamatkan sungai Cisadane dari prilaku tangan -tangan jail yang mengancam keindanan serta kejernihan sungai Ciliwung dan Cisadane. komunitas ini bertekad serta mau menjadi Satgas tampa di bayar di daerah aliran sungai Cisadane. Pembetukan Satgas pengeloaan faperta IPB hijau di pelopori oleh Dr Ernan Rustiadi yang juga sebagai Dekan Fakultas Pertanian Institute Pertanian Bogor. tawaran ini berawal dari keprihatinan Saya Hari kikuk yang hampir tujuh tahun berkegiatan secara voluntary di Sungai Ciliwung, yang tiap pekannya melakkukan aksi memulung sampah di sungai ciliwung . setelah hampir tujuh tahun ini saya karna tidak lagi tinggal di DAS Ciliwung dan pindah di kabupaten Bogor bagian barat di bawah gunung Halimun Salak akhirnya memilih Risen dari tempat kerja saya dengan alasan karna prihatin juga terhadap kondisi sungai Cisadane dimana pertama kali saya melihat anak sungai Cisadane, Cikaniki pada tahun 2008 masih jernih dan ikan banyak, sampai-sampai ikannya kelihatan karna jernihnya sungai Cikaniki. bermodalkan ilmu serta pengalaman selama mendirikan sebuah komunitas Peduli ciliwung kota Bogor dan serta satu-satunya sungai yang memiliki komunitas peduli terhadap sungai di Indonesia yang ada komunitasnya dari hulu hingga hilir. saya mendirikan komunitas peduli ciliwung bersama Almarhum Hapsoro dimana di latar belakagi dar hoby yang sama yang suka memancing ikan di sungi bukan di kolam pemancingan. kami suka memacing di alam bebas, namun ketika memancing di ciliwung kami belum pernah dapat ikan, yang selalu kami dapat adalah sampah plastik akhirnya setelah melalui obrolan di saat memancing hingga kami bertekad mengajak kawan-kawan terdekat kami mendirikan sebuah komunitas OTB atau dengan kepanjangnya komunitas organisasi tampa bentuk namu kegiatan rutin ada dan voluntary. sama persis walau kini kawan saya salah satu pendiri KPC telah tiada, saya tetap bertekad menularkan apa yang telah saya lakukan selama bergelut di komunitas peduli ciliwung Mbogor (KPC) saya bertekad dimanapun saya tinggal akan tetap berbuat sesuatu semampu saya dengan menularkan semangat mimpi Tjiliwoeng. karna saya sekarang tinggal di DAS Cisadane yaa saya pengen berbuat sesuatu untuk menanggulagi sampah maupun pencemaran yang mengacam sungai-sungai dekat ku tinggal tentunya dengan alaasan bahwasan air merupakan sumber kehidup untuk makluk hidup. nah oleh sebab itu saya mendirikan lagi sebuah komunitas tampa meninggalkan tjiliwoeng yang telah saya generasikan pada pengurus yang baru dengan semangat pengen membangun komunitas wilayah ciliwung cisadane(KWCC) dan Cisadane institute. Berawal dari sinilah akhirnya saya memilih jalan hidup menjadi pengelolah sampah dan berani meninggalkan kerjaan sayaa yang dulu nya saya menjadi office boy hingga sampai akhirnya sebelum risen dari tempat saya berkerja menjadi staff daerah tangkapan air di sebuah lembaga di kota Bogor. kini semua itu saya tinggalkan tentunya bukan meninggalkan sepenuhnya karna pada intinya saya saat ini tetap mengeluti seperti halnya apa yang saya kerjakan di tempat saya kerja dulu yang dari nol dari OB menjadi Staff Daerah tangkapan Air.
kini saatnya mungkin saya harus memilih hidup dari nol lagi, berbuat sesuatu di dekatku tinggal, yang membedakan antara yang dulu yang sekarang adalah kalau di tempat saya kerja saya mendapat gaji bulanan sedangkan yang sekarang saya harus membuktikan dari apa yang telah saya jalani menjadi pengelolah sampah/pemulung barang bekas , pengen membuktikan bahwasan apa yang saya kelolah/ppulung menjadi nilai ekonomi bagi saya dan anak istri saya.
tentunya bukan hanya saya, nantinya juga buat orang-orang yang mau serta perduli terhadap lingkungan bahwasannya dengan memilah dan memisahkan sampah ada nilai nominalnya. sejak risen dari tepat kerja saya akhirnya gayung pun bersambut seperti halnya yang saya tuliskan di atas bahwasaannya ada seorang kawan saya dan beliau Dekan di fakultas ternama di negri ini mengajak mengelolah sampahnya di tempat beraktivitas, dengan menerima tawaran sebagai Satgas pegelolah Sampah Faperta hijau secara Voluntary bersama komunitas yang baru berumur satu satu tahunlebih yang saya dirikan yaitu komunitas wilayah ciliwung cisadane dan cisadne institute serta remaja ciketug lebak tani lestari (recikal tani lestari). bagi para pembaca bisa mengunjungi kami di media sosial facebook recikal tani lestari dan cisadane institute maupun di medsosnya faperta hijau IPB.
kemvbali lagi berbuat namu untuk yang cisadane memang berbeda dengan yang ciliwung dimana yang ciliwung itu kami lakukan setiah akhir pekan dan yang cisadane setiap akhir demi kelestarian para petani pingiran hutan yang masih membutuhkan air serta pencegah terhadap permasalahan yang mengacam sungai Cisadane dari ancaman sampah yang masuk ke sungai dengan solusi memilah dan mengelolah sampah menjadi nilai tembahan ekonomi. tentunya perjalanan komunitas wilayah ciliwung cisadane tidak semulus seperti tulisan ini, kami hanaa bermodalkan dengkul dari nol, serta sulitnya mendapatkan dana untuk mengembangkan menjadi lebih besar, namun bukan berarti selama kamitetap beriktiar dan kontiniw, kami yakin komunitas ini akan besar dan menjadi inspirasi bagi orag-orang terdekat kami. tentunya kalangan masyarakat luas nantinya, pastinya kami ingin meraih itu jika memang kami memiliki modal dan menjadikan usaha pengelolan sampah yang arif terhadap lingkungn khususnya bagi sumber kehidupan mahluk hidup.

Rabu, 08 Oktober 2014

Ini Aksi Ku Mana Aksi Mu (neraka dan surga juga ada)

Pada tanggal 7/10/2014 handphoneku berdering dengan nada dering lagu kesukaan ku "bukatitik jos gandhos". Siang itu ternyata yang sedang menelpon ku adalah Pak Dekan universitas ternama di negeri ini.

Assalam mualaikum sapanya dalam handphone ku jawab wa alaikum salam. Hari sapa nya setelah uluk salam, kamu bisa datang hari rabu besok? Insya Allah bisa pak, oke kalau kamu bisa datang nanti kamu kontak sekertarisku yaa. Oh siap pak....

Hari rabu pagi kami menggadakan acara festival LABU Nusantara, sesuai obrolan kita dan apa yang kamu pilih sebagai jalan hidupmu, kamu bisa memulainya di acara ini dalam hal pengelolaan sampah. Dimana pada acara ini nantinya saya mempunyai konsen terhadap permasalahan sampah paska acara festival selesai.

Saya juga berharap Hari dan kawan Hari bisa mengawasi dari hal penerapan memilah sampah dan memisahkannya menjadi tiga jenis yaitu sampah plastic, kertas dan sampah organik sisa makanan dari para undangan yang hadir pada acara tersebut. Kamu dan kawanmu tolong pastikan dan mengnigatkan pada para orang-orang yang hadir dalam festival ini untuk memisahkan sampahnya ke dalam tiga jenis sampah yang sudah di siapkan tempatnya, tutur pak Dekan padaku. Siap pak... Nanti aku akan sosialisasikan dan akan saya bantu ingatkan para undangan yang hadir untuk membuang sampahnya pada tempatnya dan bedasarkan jenisnya. Ok kalau begitu sampai ketemu hari rabu yaa Hari, siap laksanakan. Tutup obrolan via telpon dengan pak Dekan.

Maksud dari permintaan dari pak Dekan tadi sebenarnya sudah saya tangkap. Tujuan membuang sampah pada tempatnya itu sebenarnya untuk apa? Tujuannya adalah supaya orang-orang yang datang pada acara festival tersebut bisa memulai memisahkan sampahnya dari diri masing-masing serta sudah memulai prilaku buang sampah tidak sembarangan. Namun seperti kebayakan orang kita? Ternyata walau sudah di siapkan tempat sampahnya serta di setiap MC dan pembawa acara mengumumkan untuk membuang sampah pada tempatnya ternyata masih ada juga orang yang masih tidak membuang sampahnya pada tempat yang telah di sediakan.

Namun memang saya akui merubah prilaku itu tidak semudah membalikan tangan? Alasannya kenapa? Aku juga gak tau. Mungkin mereka malas beranjak dari tempat duduknya? Atau malah mereka tidak mengerti tentang sampahnya di buang kemana? Apa malah mereka juga pengen menggujiku dan kawanku, supaya menegor mereka? Aku gak mudeng (ngerti) itu semua. Yang jelas aku selalu berada tak jauh di dekat tempat sampah yang telah di sediakan oleh para panitia Festival?

Tapi kenapa mereka juga tidak bergerak menghampiri tempat sampah yaa. Oh aku tau mungkin memang sampah itu menjadi sesuatu yang memalukan. Atau malah memang sampah itu menjijikan. Ah masak iya.... Kalau memang menjijkana kenapa mereka tidak membawa wadah atau tempat dari rumahnya? Padahal pak Dekan yang jelas-jelas orang yg top markotob aja bisa memisahkan sampahnya sendiri tampa malu. Kok masak iya orang yang hanya hadir sebagai tamu undangan masih ada yang belum menyadari kalau sampah itu harusnya di pilah oleh orang itu sendiri, padahal itu sampah yang di hasilkan dari orang tersebut. Lah aku yang memilih jalan hidup menggolah sampah yang penuh arti bagi saya hanya bisa ngeleng-ngeleng kepala melihat itu semua. Oh aku tau mungkin orang-orang itu belum tau tentang hal itu (memilah sampah dan membuang pada tempatnya) ah gak mungkin lah mereka gak tau. Kan setiap acara rehat selalu di umumkan agar membuang sampahnya pada tempatnya.

Atau mungkin orang-orang itu pura-pura ngak enggeh kali yaa? Oh bisa jadi atau malahan mereka itu golongan (......) Silakan di simpulkan sendiri yaa. Masak sih mereka gak tau itu? Gak mungkin-ngak mungkin..... Anak-anak aja yang ikutan hadir mereka malah tau dimana tempat sampah plastic. Dimana tempat sampah kertas dan dimana tempat bekas bekas sisa makanan organik. Walah..walah masak iya orang-orang itu gak tau itu pasti hanya sebuah alasan. Tapi kalau semua orang berprilaku seperti itu apa jadinya dunia ini? apa jadinya sungai-sungai yang ada di dekatnya? apa jadinya lingkungan Sekitarnya? Wah aku hanya bisa kawatir doang.....

Tapi untungnya kawanku dan aku masih sadar (segelintir orang) kalau aku juga acuh tak acuh dengan kondisi itu, aku gak bisa banyangkan jika ada sepuluh yang bikin acara yang serupa berapa banyak sampah yang di hasilkan? Untungnya Pak Dekan dengan sigap sebelum bikin acara besar juga ikut memikirkan sampahnya harusnya di kemanakan?

Terimakasih Pak Dekan telah mengajak orang gila ini untuk memikirkan solusi sampah di acara itu. Hasil dari sampah yang di hasilkan dari acara festival tersebut setiap kantongnya seberat 3kg untuk sampah plastik. 3 kg sampah kertas dan kurang lebih setegah plastik sampah dras back sampah organiknya seberat 5,5 kg. Tapi walau pun berat sampah organiknya ternyata di sekitar tempat acara ada lobang-lobang biopori.... Yaaa akhirnya dengan berat sampah organik seberat 11kg bisa di masukan ke 5 lobang biopori.

 Aku gak kebayang seandainya paska acara sampahnya gak di angkut dan tiba-tiba hujan turun lari kemana yaa kira-kira sampah itu? Dan akan menjadi apa kalau hanya di diamkan tampa di olah? Waduh aku gak tau, mungkin bisa bikin di sekitar kita bau, selokan mampet, sampah berserakan di jalan-jalan. Atau malahan kemana yaa? Saya tak habis pikir kok masih ada yaa orang yang belum perduli dan memilah sampahnya? Lah pastinya namanya juga hidup pastinya butuh kesimbangan, kalau semuannya melakukan tentunya jadi apa yaa?

Nah tapi kalau semuanya cuek juga terjadi apa yaa? Kalau semuanya melakukan pemilahan pastinya masuk surga semua? Lantas siapa penghuni neraka nantinya? Yaa aku sebagai manusia yaa hanya bisanya cuman menggigatkan saja surga dimana dan neraka dimana? Apa yang kita perbuat sebenarnya sudah menjadi gambaran surga dan neraka itu.

Kalau mau masuk surga yaa tinggal tentukan apa yang harus dilakukan? Kalau ingin melihat surga yaa tinggal kamu lihat sungai-sungai sekitarmu tinggal. Bukankah sungai juga ada di surga?

Pertanyaanya sungai seperti apa yang di maksud. Tentunya yaa yang bagus baguus dan kalau melihat neraka yaa yang di gambarkan dengan yang jelek-jelek dan yang rusak-rusak. Sekarang tinggal pilih aja sampah adanya dimana? Tempat sampah ada dimana? Siapa yang nyampah? Mau di apakan sampahnya? Silakan di jawab bertdasarkan perspektif masing-masing. Tinggal tanya pada diri kita sendiri sampahku tanggung jawab siapa? Sampahmu tanggung jawab siapa? Dan siapa seharusnya yang bertangung jawab itu semua.

Sila dijawab, makasih.

Senin, 06 Oktober 2014

Demi Cinta Jadi "gila", Demi Sungai Berbuat Sesuatu

Walah walah walah mimpi lagi mimpi lagi, kapan yaa aku bagun dari mimpi? Ujung-ujungnya karna banyaknya sampah yg di buang ke sungai, aku memilih jadi pemulung. Barangkali setelah jadi pemulung aku jadi bosnya pemulung he he he.

Bikin lapak aja kelabakan kok malah mau jadi bos pemulung, mikirin makan aja kelabakan kok malah sok jago, mikirin kebutuhan rumah aja bingung kok malah sok sok an.

Aku bigung harus berbuat apa? Bermimpi terus, kapan bangunnya? Berbuat sesuatu hanya di anggap orang gila? Kapan yaa sungai-sungai di dekatku tinggal seperti itu? Apa perlu ada revolusi? Apa perlu ada gerakan? Apa perlu ada peraturan khusus?

Ah semua itu sebenarnya sudah ada namun, implementasinya hanya seremoni belaka. Tak perlu repot, tak perlu bingung, tak perlu tunggu berfikir panjang? Yang perlu hanya, mari kita singsingkan legan baju kita, bagun dari mimpi, berbuat sekecil burung pipit yang terpenting konsisten.

Sudah bosan hidup karna bermimpi, sudah bosan hidup berteori, sudah bosan hanya melihat perbandingan, bahkan sudah jenuh melihat dan melihat, ingin aksi tapi seperti orang gila. Sudah jenuh saling menyalahkan kini saatnya Revolusi Mental. Berubah bagi yang mau, dirubah bagi yang gak mau, dipaksa bukan jamannya lagi, diperintah sudah tak percaya sama yang memerintah.

Kini tinggal hati yang bicara seperti kata cinta? Jika kita cinta tanpa disuruh pun akan bertindak, jika kita cinta hati akan berkata, jika cinta bicara selesailah semua masalah. Berbuat sesuatu dengan cinta pastinya cukup menyenangkan, berbuat dengan cinta tak perduli walau mabuk kepayang, bergerak dengan cinta tentunya tak perduli walau di anggap gila.

Gila bukan arti sebenarnya dari kata gila? Namun gila akan berbuat sesuatu yang indah maupun yang di anggap tidak indah supaya menjadi indah. Cintailah terlebih dahulu niscaya akan ada getaran untuk bergerak, lihatlah terlebih dahulu niscaya akan tahu apa yang terjadi di sekitarnya, berteriaklah sekeras sampai habis suaramu jika tampa cinta dan mencintai sekitarmu, ah itu semua percuma.

Tidak ada yang percuma di dunia ini kalau mau merubahnya, berubahlah dari diri sendiri baru mengajak orang, berteriak dari diri baru di dengar yang lain. Seperti halnya air yang menggalir dari gunung yang katanya banyak asamnya, mengalir ke laut yang banyak garamnya. Asam garam adalah sebuah kiasan untuk orang-orang yang memiliki pengalaman, tinggal mempraktekannya saja.

Padahal walau air sungai datang dari hulunya, dimana gunung-gunung terlihat tinggi jika dilihat dari laut, sebaliknya laut terlihat lebih luas jika dilihat dari gunung. Bukan sebaliknya "kita" terus bermimpi, dimana air sungai sesungguhnya di setiap alirannya pastinya ada hambatan.

Apa itu? Itu semua sama halnya dengan pikiran kita, pandangan kita, cara kita menyikapi. Semua itu tinggal dijalankan supaya bermuara pada akhirnya dimana tempat luas dan nyaman nantinya, namun semua itu butuh perjuangan kawan? Kadang harta harus di perjuangkan, kadang pikiran, kadang tenaga, bahkan kadang nyawa sebagai taruhanya.

Berbuatlah sekecil yang kamu bisa niscaya perbuatanmu itu bisa mengispirasi, kawan, keluargan, kerabat dan suadara-saudara-i lainya. Bagunlah dari mimpi, dari sekarang, bagun, bagun dan bagunlah negrimu dari tanganmu. Niscaya negrimu jadi indah seindah apa yang kita baca saat ini. Wasalam.